Dalam dunia pengembangan profesional dan pribadi yang bergerak cepat, model-model lama mulai terasa usang. Selama puluhan tahun, mentoring telah menjadi tulang punggung bagi para profesional yang ingin belajar dari pengalaman orang lain. Namun, era informasi yang hiper-personal kini menuntut sesuatu yang lebih dalam, lebih internal, dan lebih mandiri. Selamat datang di era baru. Selamat tinggal pada model pengajaran yang berbasis petunjuk; Masa Depan Coaching ada di tangan sebuah pendekatan yang dikenal sebagai Transformative Coaching.
Mengapa Mentoring Mulai Ditinggalkan?
Model mentoring pada dasarnya adalah transfer pengetahuan dan pengalaman dari seorang ahli (mentor) kepada seorang pemula (mentee). Kekuatan utamanya adalah kecepatan: Mentee mendapatkan jalan pintas untuk menghindari kesalahan umum. Namun, kelemahan mendasarnya adalah ketergantungan dan konteks.
Ketika seorang mentor memberikan nasihat, nasihat itu berasal dari konteks pengalaman pribadinya yang mungkin sudah tidak relevan atau tidak cocok dengan kepribadian unik si mentee. Hasilnya, mentee menjadi terbiasa mengikuti petunjuk, bukan menemukan solusi orisinal mereka sendiri. Di dunia kerja yang menuntut adaptasi konstan, model ini justru menciptakan profesional yang pasif. Inilah Beda Mentoring Coaching yang fundamental.
Transformative Coaching: Bukan “Apa yang Harus Dilakukan”, tapi “Siapa Anda Sebenarnya”
Transformative Coaching bergerak melampaui perilaku (doings) dan fokus pada identitas (beings). Daripada bertanya, “Bagaimana cara menulis e-mail yang lebih baik?” (mentoring), seorang coach transformatif akan bertanya, “Perubahan identitas apa yang harus Anda lakukan agar secara alamiah mampu menulis e-mail yang meyakinkan?”
Pendekatan ini berfokus pada pergeseran internal—mengubah kerangka berpikir, menghilangkan keyakinan yang membatasi, dan mengaktifkan potensi yang belum disadari. Tujuannya adalah agar klien (coachee) menjadi sepenuhnya pemilik solusi dan transformasinya sendiri. Ketika pergeseran identitas terjadi, hasil eksternal (kesuksesan karier, peningkatan pendapatan, hubungan yang lebih baik) adalah efek samping alami yang berkelanjutan.
Tiga Pilar Transformative Coaching yang Mengubah Segalanya
-
Kepemilikan Penuh (Ownership): Dalam mentoring, jika nasihat gagal, mentee mungkin menyalahkan mentor. Dalam Transformative Coaching, coachee didorong untuk melihat bahwa semua jawaban ada di dalam diri mereka. Coach hanya memfasilitasi penemuan tersebut. Hal ini menciptakan rasa akuntabilitas yang mendalam, sebuah keterampilan penting untuk Masa Depan Coaching.
-
Pertanyaan Kuat (Powerful Questions): Alih-alih memberikan solusi A, B, atau C, coach mengajukan pertanyaan yang memaksa klien untuk menantang asumsi mereka yang paling mendasar. Pertanyaan seperti, “Jika Anda benar-benar tidak bisa gagal, keputusan apa yang akan Anda ambil?” dapat membuka celah pemikiran baru yang tidak mungkin dicapai melalui nasihat langsung.
-
Fokus pada Identitas (Identity Focus): Jika mentoring berfokus pada meningkatkan skillset, Transformative Coaching berfokus pada memperkuat mindset dan identity. Perubahannya bersifat permanen karena bukan hanya tentang mengubah apa yang mereka lakukan, tetapi siapa mereka.
Di tengah pasar yang serba cepat, di mana satu-satunya konstanta adalah perubahan, kita membutuhkan profesional yang adaptif dan mampu menghasilkan solusi orisinal. Mentoring memberi kita peta lama, sementara Transformative Coaching melatih kita menjadi seorang kartografer yang mahir menciptakan peta baru di wilayah yang belum dipetakan. Inilah inti dari Beda Mentoring Coaching.